Latest News

DIET TERAPHY PADA PENYAKIT JANTUNG

BAB I
PEDAHULUAN
Saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi pembunuh no.1 di Indonesia dan jumlah penderitanya terus bertambah. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa penyakit kardiovaskular akan menjadi penyebab terbesar kasus kematian di seluruh dunia pada tahun 2020.
Di Indonesia Penyakit jantung adalah pembunuh nomor 3. Pertama segolongan masyarakat menjadi lebih waspada untuk menjaga kesehatan jantungnya. Kedua golongan ini yang bersikap masa bodoh karena merasa bahwa merasa stiap orang akhirnya akan meninggal dunia. Jantung adalah organ tubuh yang bekerja paling kuat. Setiap harinya organ tubuh ini memompa ±16.000 liter darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah sepanjang sekitar 90.000 km. Walaupun relatif kecil namun organ ini bekerja dua kali lebih keras dari pada betis pelari sprint atau otot lengan petinju kelas berat. Tidak ada otot kecuali otot rahim wanita yang bekerja siang dan malam selama 70 tahun atau lebih seperti jantung. Berikut ini terdapat beberapa anjuran yang akan berguna bagi pemeliharaan kesehatan jantung. Namun, yang perlu ditekankan bahwa dengan mengikuti anjuran – anjuran bukan berarti kita akan kebal terhadap penyakit jantung, sebab sampai sekarang belum ada sesuatupun yang dapat memberi kekebalan seperti itu.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Penyakit jantung
Penyakit jantung adalah penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah, beberapa contoh pentakit jantung seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, sakit di dada (biasa disebut “angina”) dan penyakit jantung rematik (Wisasi, 2008).
Sabda Nabi SAW:
“Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik maka sehatlah seluruh tubuh itu, dan jika ia rusak maka akan sakitlah seluruh tubuh itu. Sesungguhnya itu adalah jantung”. (HR Bukhari dan Muslim)
Penyakit-penyakit kardiovaskuler (pembuluh darah) antara lain:
a         Aterosklerosis adalah suatu proses dimana suatu plak (gumpalan) yang terutama terdiri dari lemak mengendap sepanjang dinding dalam pembuluh darah arteri. Kebanyakan penyakit jantung (seperti penyakit jantung koroner) terjadi akibat aterosklerosis, dimana terjadi akumulasi plak didalam dinding arteri.
Beberapa teori pembentukan terjadinya aterosklerosis (penyakit jantung):
i. Teori reaksi terhadap kerusakan jaringan yaitu adanya reaksi kerusakan terhadap    endhotelium dengan terbentuknya deposit yang diisi dengan zat – zat lemak dan zat yang lainnya.
ii. Teori monoclonal yaitu adanya isoenzim dijumpai pada lesi dan multiplikasi sel ploriferasi membentuk ateroma.
iii. Teori lisosomal yaitu enzim lisosomal dapat meniadakan degradasi dari sel – sel untuk melanjutkan pembentukan dari ateroma.
b        Infark miokard adalah sebutan lain dari serangan jantung, terjadi bila sebagian dari otot jantung tidak menerima oksigen yang cukup, terutama akibat sumbatan arteri koroner. Karena sel-sel otot jantung, memerlukan oksigen untuk kehidupannya, maka daerah otot jantung yang mendapat suplai darah yang mengalami sumbatan akan mengalami kematian jaringan. Daerah otot jantung yang mengalami kematian jaringan ini disebut sebagai area infark. Area yang mengalami infark tidak berfungsi secara normal, seperti layaknya otot jantung yang sehat. Kondisi  ini mungkin dapat pulih kembali bila aliran darah yang menuju area infark diperbaiki atau pembuluh darah arteri yang mengalami sumbatan dikoreksi dengan pembedahan atau obat-obatan sedini mungkin. Bila terlambat, maka pembuluh darah koroner yang tersumbat tidak dapat diperbaiki lagi, sehingga kematian jaringan bersifat menetap dan akan menyebabkan penyulit lain seperti payah jantung kongestif.  Jantung merupakan sebuah pompa yang kuat yang bertanggung jawab mengalirkan darah menuju alat-alat vital diseluruh tubuh melalui suatu jaringan kompleks dari pembuluh darah arteri dan vena. Oleh karena itu sangat penting dijaga agar jantung anda  dan pembuluh-pembuluh darahnya tetap berada dalam kondisi yang baik.
c         Payah Jantung Kongestif adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu memompa darah yang cukup untuk kebutuhan jaringan diseluruh tubuh. Jaringan yang tidak cukup menerima suplai oksigen untuk memenuhi kebutuhannya akan menjadi lemah, mengalami gangguan fungsi dan bahkan kematian jaringan. Penurunan kemampuan jantung untuk memompakan darah dapat terjadi akibat berbagai sebab, antara lain infark miokard atau aterosklerosis. Bila terjadi kegagalan fungsi jantung, maka akan terjadi hambatan aliran darah didalam pembuluh2 darah. Akibatnya sebagian darah akan kembali menuju jantung, menyebabkan kongesti  dan peningkatan tekanan didalam sirkuit pulmonal dan atau sirkuit sistemik. Gejala dan tanda-tandanya sebagai berikut:
- Sesak nafas terutama pada saat aktifitas fisik, namun bila berat, sesak bahkan dapat terjadi pada saat istirahat.
- Pembengkakan hati, perut dan tungkai karena timbunan cairan.
d. Penyakit Jantung Koroner adalah penyempitan/penyumbatan (arteriosclerosis) pembuluh arteri koroner yang disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi.
e.  Hipertensi yaitu pengaruh tekanan darah tinggi terhadap sistem kardiovaskular dapat meningkatkan risiko kerusakan pada jantung, ginjal, mata dan bahkan otak. Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat menimbulkan payah jantung, gagal ginjal, kebutaan dan stroke (Shahab, 2008)
Gangguan- gangguan/Penyakit pada organ jantung  antara lain:
a         Abnormal Heart Rhythms, normalnya jantung berdetak 60 sampai 100 kali tiap menit (atau sekiar 100 ribu kali setiap harinya). Jantung yang bedetak tidak normal biasanya disebut arryhytmia (sering juga disebut dysrhythmia). Jantung yang berdetak terlalu lambat (dibawah 60 kali per menit) disebut bradyarrhythmias. Sedangkan yang berdetak di atas 100permenitdisebuttachyarrhytmias.
b.  Heart Failure atau gagal jantung merupakan yang paling menakutkan. Bukan berarti jantung tidak dapat bekerja sama sekali, hanya saja jantung tidak berdetak sebagaimana mestinya.
c. Heart Valve Disease yaitu rusaknya katup jantung. Katup jantung terdapat pada setiap bilik jantung (jantung kita memiliki 4 buah bilik) yang berfungsi mengatur aliran darah searah menuju jantung.
d.  Congenitas Heart Disease atau biasa disebut kelainan pada jantung. Menyerang 8 sampai 10 anak dari tiap 1000 kelahiran. Gejala awal biasanya terldeteksi saat kelahiran atau pada masa kanak-kanak. Di Amerika sekitar 500 ribu orang mengalami kelainan jantung pada masa pertumbuhannya dan bertambah sektar 20 ribu orang tiap tahunnya.
e.  Cardiomyopathies menyerang pada otot jantung itu sendiri. Orang -orang yang terserang penyakit ini biasanya mengalamai pembesaran, pengecilan jantung secara tidak normal dan atau bahkan menjadi kaku. Menyebabkan jantung memompa secara tidak normal (menjadi lebih lemah). Tanpa penanganan yang baik cardiomyopathies akan menyebabakan penyakit yang lebih buruk seperti gagal jantung atau menyebabkan jantung berdetak tidak normal.
f.  Pericarditis adalah radang yang mengelilingi lapisan jantung. Jarang terjadi, biasanya disebabkan oleh infeksi.
Yayasan Jantung Indonesia baru mulai mengampanyekan pentingnya kesadaran perempuan terhadap bahaya sakit jantung beberapa bulan lalu. Sebagian besar orang berpikir sakit jantung adalah masalah pria, Kenyataannya justru penyakit jantung lebih fatal pada perempuan. Pasien perempuan dengan gagal jantung memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding pria. Demikian pula halnya dengan infark miokard (serangan jantung) pada wanita. Fenomena ini mungkin karena perempuan cenderung lebih tua saat mendapat infark sehingga mengalami penyulit lainnya. Pencegahan utama adalah mengubah gaya hidup, meliputi perubahan diet untuk mengatur berat badan dan pembatasan lemak, selain tentunya olah raga teratur dan berhenti merokok.
Penderita kadar kolesterol tinggi khususnya LDL adalah sasaran utama untuk menderita penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner. Fakta menunjukan 80% pasien penyakit jantung meninggal mendadak karena penyakit jantung koroner, dan bahkan 50% di antaranya tanpa gejala sebelumnya. Penyakit ini disebabkan oleh kadar kolesterol LDL berlebihan yang membentuk plak aterosklerosis pada pembuluh darah koroner jantung dan mengakibatkan otot jantung tidak menerima aliran darah. Kolesterol LDL merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner. Selain LDL, faktor risiko lain yang harus diukur dan diketahui adalah:
1.      Merokok
Lebih dari 57% setiap rumah tangga masyarakat kita mempunyai sedikitnya seorang perokok dalam rumahnya, dan 91,8% perokok kita itu merokok di rumah. Karenanya diperkirakan terdapat sekitar 43 juta anak-anak dan ibu rumah tangga yang terkena paparan asap rokok secara terbuka sebagai perokok pasip yang bahayanya lebih besar diderita oleh mereka yang bukan perokok.
2.      HDL rendah (< 40 mg/dl)
3.      Hipertensi (tekanan darah tinggi): 140/90 atau sedang dalam pengobatan antihipertensi
4.      Usia Pria > 45 tahun, dan wanita > 65 tahun
5.      Adanya riwayat keluarga langsung/sedarah yang menderita penyakit jantung/stroke:
Jika Pria :             < 55 tahun
Jika Wanita :        < 65 tahun (Masino,2005)
Tanda-tanda penyakit jantung
Gejala-gejala penyakit jantung dapat dideteksi dengan satu atau gabungan tanda-tanda berikut :
1. Sakit di dada seperti ditusuk. Sakit ini seringkali hanya dirasakan sesaat, pada beberapa orang dirasakan agak lama. Sakit ini oleh banyak orang sering disebut angin duduk.
2. Sakit di dada biasanya disertai dengan sesak napas.
3. Mudah letih.
4. Telapak tangan berkeringat
Untuk melakukan deteksi lebih akurat penyakit jantung melalui test treatmill.
Penyakit jantung dan stroke dapat dicegah dengan merubah gaya hidup. Berikut ini beberapa tips untuk mencegah datangnya penyakit stroke dan penyakit jantung, yaitu:
  1. Berhenti merokok sedini mungkin. Nikotin, karbon monoksida (CO) dan zat lainnya yang terkandung dalam rokok berpotensi menimbulkan kerusakan dinding pembuluh darah. Hal ini akan mempermudah kolesterol untuk melekat pada di dinding pembuluh darah yang mengalami kerusakan sehinga membentuk plak. Risiko terkena serangan jantung akan meningkat 50% jika menghisap 4 batang setiap hari.
  2. Berolahraga secara teratur. Ketika melakukan aktivitas fisik, jantung akan berdenyut lebih cepat untuk meningkatkan jumlah darah yang kaya akan oksigen ke seluruh tubuh sehingga meningkatkan kadar HDL/kolesterol baik dan menurunkan LDL/kolesterol jahat. Selain itu berolahraga juga membantu mengurangi berat badan.
  3. Memperbaiki kualitas makanan dan cara makan dengan mengurangi pemasukkan lemak terutama lemak jenuh (tersaturasi). Disarankan pemasukkan lemak tidak melebihi 30% dari kalori total dan lemak jenuh tidak melebihi dari total 8-10% dari total pemasukkan kalori.
Surat Al-A’raf ayat 31:
Artinya:
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan
  1. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran. Mengkonsumsi porsi makanan kaya akan buah dan sayuran yang mengandung anti oksidan, beta karoten vitamin C dan E, dan elemen selenium (ex: wortel, buah sitrun dan brokoli). Sebab makanan tersebut dapat di percaya sebab terdapat kemungkinan meningkatnya antioksidan bisa memperlambat atau mencegah proses penyumbatan artei dan menjaga agar tidak terjadi penumpukan plake di dinding arteri.
Surat Al-Baqarah ayat 22:
Artinya:
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
Surat Al-Baqarah ayat 168
Artinya:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu
  1. Minum tiga gelas jus jeruk setiap hari. Hal ini dapat meningkatkan HDL sebesar 21%, dalam waktu empat minggu. Menurut ElZbieta Kurowska, Ph.D dari University of Westrn Ontario, kandungan flovonoid, bisa disebut hesperidin, dalam jus jeruk yang berpengaruh pada naiknya kadar HDL (Budiyanto, 2002).
  2. Hindari stres yang berlebihan. Stres bisa menyebabkan peningkatan kadar hormon epinefrin yang mengakibatkan naiknya tekanan darah dan denyut jantung sehingga mempermudah kerusakan pada dinding pembuluh darah.
  3. Hindari pola hidup tidak sehat. Pola hidup yang tidak sehat dapat memicu timbulnya penyakit diabetes, darah tinggi dan kolesterol tinggi serta obesitas, faktor-faktor ini merupakan penyebab terjadinya penyakit jantung.
  4. Mengkonsumsi neutriceutical/herba pilihan. Seperti Omega 3, yang terbukti mampu menekan LDL/kolesterol jahat, serta Spirulina yang memiliki kandungan antioksidan dan karotenoid dalam jumlah tinggi. Antioksidan akan mencegah timbulnya plak pada pembuluh darah akibat oksidasi radikal bebas.
9.      Hal-hal tersebut tadi oleh Yayasan Jantung Indonesia menjadi perhatian bidang penyuluhan yang harus terus mengingatkan kepada masyarakat melalui Panca Usaha Jantung Sehat  :
S eimbang gizi
E nyahkan rokok
H indari stres
A wasi tekanan darah
T eratur berolah raga
2.2 Kolesterol dan Penyakit Jantung Koroner
Kolesterol adalah salah satu turunan lemak. Bila kadar kolesterol dalam tubuh cukup, maka zat ini sangat berguna bagi tubuh untuk menjalankan fungsi beberapa organ tubuh seperti empedu, hormon, prekursor vitamin D, dan menggerakan fungsi beberapa bahan makanan. Oleh karena itu, apabila tubuh mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung kolesterol secara berlebihan maka kolesterol dalam darah cenderung akan meningkat. Kolesterol darah yang berlebihan ini dapat mengakibatkan penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang kemudian dapat menyebabkan penyakit jantung.
Bahan makanan yang mengandung kadar kolesterol tinggi adalah : kuning telur, hati, otak, paru, usus, kepiting, kerang-kerangan, dan lain-lain (Wisasi, 2008).
Penyakit Jantung Koroner adalah penyempitan/penyumbatan (arteriosclerosis) pembuluh arteri koroner yang disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi.
Salah satu penyebab jantung koroner adalah kebiasaan makan makanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam peredaran darah dan diserap tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan disimpan di hati dan di metabolisme menjadi kolesterol pembentukan asam empedu yang berfungsi sebagai pencerna lemak. Semakin banyak konsumsi lemak, berarti semakin meningkat pula kadar kolesterol dalam darah. Penumpukan kolesterol tersebut dapat menyebabkan (arteriosklerosis) atau penebalan pada pembuluh nadi koroner (arteria koronaria). Kondisi ini mengakibatkan kelenturan pembuluh nadi menjadi berkurang. Serangan jantung koroner pun akan lebih mudah terjadi ketika pembuluh nadi koroner mengalami penyumbatan. Ketika itu pula aliran darah yang membawa oksigen ke jaringan dinding jantung pun terhenti. Penyakit ini dulunya sering disebut penyakit orang tua, karena memang dulu cuma orang-orang tua saja yang berusia 50 tahunan yang rentan terkena penyakit ini. Namun sekarang ini ada kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.
Selain mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh tinggi, peningkatan konsumsi makanan berserat setiap hari ternyata mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah yang berarti pula menurunkan risiko serangan penyakit mematikan ini. Dari hasil penelitian para ilmuwan dari National Heart, Lung and Blood Institut di Bethesda, Maryland, Amerika dikatakan bahwa setiap penurunan1% kolesterol dalam darah akan menurunkan risiko serangan jantung koroner sebesar 2%.
Serat makanan yang efektif menurunkan kolesterol adalah serat yang larut dalam air. Jenis serat ini mudah difermentasikan oleh bakteri kolon (laktobacillus) menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain faity acid) dan gas (flatus). Asam lemak rantai pendek tersebut mampu mengikat asam empedu didalam usus. Berkurangnya asam empedu akan memperlambat penyerapan lemak. Hal ini berarti pula akan menurunkan kadar kolesterol darah. Selanjutnya, kelebihan asam empedu di pencernaan akan dibuang bersama – sama feses. Untuk memudahkan pengeluaran feses perlu dibantu dengan konsumsi serat tidak larut air.
James Anderson dari Universitas kentucky, Amerika Serikat, membuktikan bahwa pemberian 90g oatmeal atau kacang-kacangan setiap hari pada penderita kolesterol tinggi, mampu menurunkan kolesterol darah hingga 20%. Penurunan lemak darah itu berasal dari pengurangan konsumsi lemak selama diet sebanyak 5% dan 15% sisanya merupakan angka penurunan kolesterol karena penambahan serat larut air dalam menu diet. Data tersebut juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Van Horn dari American Heart Association. Menurut Horn dengan mengkonsumsi 60g makanan mengandung serat larut air seperti oatmeal atau kacang – kacangan tiap hari, dapat menurunkan kolesterol darah sebanyak 5,6 – 6,5 mg.
Penyakit Jantung Koroner terjadi karena penyempitan/ penyumbatan pembuluh darah koroner yang berfungsi mendistribusikan darah dan oksigen ke otot jantung. Penyumbatan (plak aterosklerosis) disebabkan tertumpuknya endapan lemak (terutama kolesterol LDL), sel-sel otot polos pembuluh darah dan matriks ekstraseluler lainnya di sepanjang dinding arteri sebagai hasil proses yang berlangsung bertahun-tahun. Jika aliran darah berkurang secara bermakna, maka penderita perlu segera mendapat tindakan medis. Keluhan penderita PJK bervariasi. Umumnya angina pectoris, rasa sakit di dada seperti tertekan benda berat yang kadang menjalar ke lengan, rahang, dan punggung. Ada pula penderita yang mengeluh leher seperti tercekik atau merasa sakit di ulu hati. Keluhan biasanya terjadi saat penderita melakukan aktivitas fisik atau stres yang membuat jantung berdenyut lebih kencang dan menuntut lebih banyak oksigen. Makanan khusus untuk penyakit jantung koroner bertujuan memberikan makanan rendah dalam kalori bagi pasien yang gemuk. Rendah dalam kolesterol bila ditemui kadar kolesterol tinggi. Kadar kolesterol normal adalah 150-250 mg %.
Penurunan kolesterol hingga kurang dari 300 mg/ hari telah dianjurkan pada langkah pertama diet.
KONSUMSI
TARGET KADAR KOLESTEROL YANG DICAPAI
Makanan hewani << Telur dan kacang-kacangan < < 300 mg/hari
Makanan hewani <<< Telur dan kacang-kacangan <<< < 200 mg/hari
Ketentuan-ketentuan yang digunakan untuk menunjukan nilai normal kadar kolesterol menurut Dr.Samsuridjal( Kompas, 2004) adalah:
a.  Kadar kolesterol total yang diinginkan dan diharapkan aman adalah dibawa 200mg/dl.
b. Kadar yang sudah mulai meningkat dan harus diwaspadai untuk mulai dikendalikan  adalah 200-239mg/dl.
c.  Kadar yang tinggi dan berisiko bagi pasien adalah sama atau diatas 240mg/dl.
Ikan Cegah Penyakit Jantung Koroner
Sebagai sumber protein hewani, ikan memang sempurna. Dengan harga yang relativ murah, ikan kaya akan protein, vitamin, mineral esensial, rendah kolesterol dan kadungan asam lemak omega-3 yang baik untuk perkembangan otak anak.Banyak manfaat dari mengkonsumsi ikan, hingga hari pangan se dunia yang ke 16, pemerintah mengangkat tema Melalui Konsumsi Ikan Kita Tingkatkan Status Gizi Masyarakat. Sayangnya konsumsi ikan di kalangan masyarakat kita belum membudaya. Konsumsi ikan masarakat Indonesia per kapita per tahunnya masih tergolong rendah yaitu sekitar 19.14 kg. Hanya daerah Maluku dan Sulawesi Utara yang konsumsinya di atas 50 kg/kp/tahun. Sangat disayangkan, mengingat Indonesia sebagai negara maritim yang kaya akan hasil perikanan.
Ikan digolongkan menjadi ikan air tawar, ikan air laut dan ikan migrasi. Dilihat dari komposisi zat gizinya, ketiga jenis ikan ini sama kayanya akan nutrisi. Umumnya ikan kaya akan protein, lemak, kalsium, fosfor, besi dan retinol. Nutiri esensial ini sangat penting bagi tubuh, terutama anak dan remaja di masa pertumbuhan. Nilai cerna protein ikan sangat tinggi yaitu lebih dari 90%. Kondisi ini menjadikan ikan sangat mudah dicerna dan baik untuk lansia, anak-anak dan bayi. Mengingat kelompok balita dan lansia adalah usai rentan. Balita memiliki sistem pencernaan yang belum sesempurna orang dewasa. Sedangkan manula organ pencernaan yang fungsinya mulai menurun. Dua kelompok ini sangat disarankan mengkonsumsi ikan untuk mencukupi kebutuhan protein tubuh.
Keunggulan lain dari ikan adalah rendahnya kandungan kolesterolnya. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi kesehatan, mengingat lemak jenuh merupakan salah satu pemicu tersumbatnya pembuluh darah penyebab penyakit jantung koroner. Dengan rajin mengkonsumsi ikan merupakan salah satu cara diet tepat sebagai penangkal penyakit jantung koroner. Seperti bangsa Eskimo yang makan ikan 300-400 g/hari ditemukan masarakatnya rendah kasus penyakit jantung. Vitamin dan mineral juga banyak terdapat di dalam daging ikan. Golongan vitamin yang banyak terkandung di dalam ikan adalah golongan vitamin yang larut di dalam lemak, seperti vitamin A dan D. Sedangkan mineral yang dominan adalah fosfor, besi, kalsium, selenium dan iodium. Vitamin dan mineral ini bermanfaat baik bagi tubuh, seperti menjaga dan memelihara kesehatan serta mencegah penyakit akibat kekurangan zat gizi mikro. Berikut tabel komposisi zat gizi dari beberapa jenis ikan air tawar dan laut.
Ikan
protein
lemak
kalsium
fosfor
besi
Kakap
20.0 g
0.7 g
20 mg
200 mg
1.0 mg
Peda
28.0 g
4.0 g
174 mg
316 mg
3 .1 mg
Teri kering
33.3 g
2.9 g
1209 mg
1225 mg
3.0 mg
Bandeng
20.0 g
4.8 g
20 mg
150 mg
2.0 mg
Ikan mas
16.0 g
2.0 g
20 mg
150 mg
2.0 mg
Lele
18.2 g
2.2 g
34 mg
116 mg
0.2 mg
Kembung
22.0 g
1.0 g
20 mg
200 mg
1.0 mg
Sumber: Oey Kam Nio. Daftar Analisis Bahan Makanan.1995
Anak Obesitas Rentan Penyakit Jantung
Sebuah kampanye peringatan dari World Heart Organization mengungkapkan anak-anak gemuk atau obesitas memilki resiko tiga hingga lima kali lebih besar kemungkinan mengalami serangan jantung atau stroke. Hal ini diperparah buruknya pola makan dan jarangnya berolah raga sehingga serangan jantung dan stroke atau stroke bisa dialami diusia-usia dini. Jumlah anak yang mengalami obesitas meningkat tiga kali lipat dalam 20 tahun dimana angka tersebut sebesar 10% nya terjadi pada anak berusia 6 tahun dan meningkat menjadi 17% pada mereka yang berusia 15 tahun.
Menurut World Heart Federation obesitas, pola makan yang buruk, merokok dan tidak berolah raga menjadi factor serius kerusakan kesehatan remaja mendatang. Karena itu, federasi jantung dunia menghimbau untuk melindungi anak dari lingkungan pemicu serangan jantung dengan mengajarkan kebiasaan makan yang sehat dan membatasi makan-makanan yang tidak sehat.
Selain obesitas, organisasi juga memperingati resiko rokok terhadap masa depan kesehatan jantung anak-anak. Anak-anak yang menghisap asap cenderung menderita banyak penyakit dari perokok aktif dan 25% lebih besar terkena resiko kanker paru-paru dan penyakit jantung dan 80% lebih besar terhadap resiko stroke.
Dampak Obesitas pada Anak:
o   Gangguan psiko-sosial, misalnya rendah diri karena diolok-olok teman akibat berbagai perbedaan dengan sesama
o   Pertumbuhan fisik yang lebih cepat. Usia tulang juga menjadi lebih cepat disbanding dengan umur biologiknya.
o   Gangguan pernafasan umpamannya tidur mrndengkur, sering mengantuk disiang hari atau infeksi saluran nafas.
o   Obesitas berlanjut sampai usia dewasa terutama apabila dimulai pada masa prapubertas.
o   Penyakit degeneratif maupun metabolic seperti darah tinggi, jantung koroner, kencing manis, dan kelebihan kolesterol maupun lemak protein .
Dalam penelitian yang dilakukannya oleh seorang dokter selama tiga bulan, mereka mengamati kecenderungan anak-anak usia 6-12 tahun di tiga sekolah dasar (SD) swasta di Jakarta. Hasilnya, antara lain, ia mendapati sekitar 27,5% murid di ketiga SD itu mengalami kelebihan bobot tubuh. Jumlah mereka 254 anak, 157 laki-laki dan 97 perempuan. Peneliti juga mencoba memantau prevalensi faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner pada anak-anak yang kegemukan itu. Termasuk juga pola makan mereka umumnya. Selama penelitian itu, peneliti mengukur tinggi, berat badan, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul. Untuk variabel independennya, digunakan tiga parameter antropometrik, yakni lingkar pinggang, rasio pinggang terhadap tinggi, dan rasio pinggang terhadap pinggul. Sedangkan variabel dependennya adalah total kolesterol, kolesterol HDL, kolesterol LDL, indeks atherogenic, gaya hidup, tekanan darah sistolik (SBP), dan tekanan darah diastolik (DBP).
Hasil penelitian itu cukup mengejutkan. Bukan saja angka 27,5% anak-anak usia SD itu mengalami obesitas. Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan darah sistolik sebagian mereka yang kegemukan itu (sekitar 33,1%) meningkat. Sebagian lagi, sebanyak 20%, memperlihatkan kenaikan tekanan darah diastolik. Dengan kata lain, pada anak-anak itu sudah tampak risiko terkena penyakit jantung koroner. Ternyata sebanyak 64% anak yang diteliti melahap kalori 20% lebih besar dari batas yang disarankan badan kesehatan dunia, WHO. Badan dunia tersebut selama ini sudah mematok, kebutuhan kalori yang normal pada anak-anak adalah 1.800-2.000 kalori per hari. Sebanyak 72% dari mereka yang diteliti melahap lemak 30% lebih banyak dari kebutuhan yang normal.
Untuk jumlah kasus anak obese, hasil penelitian itu tak meleset jauh dari angka yang dilansir dr. Rachmad Sugih. Ahli gizi dari FK-UI ini menyatakan, prevalensi obesitas di negeri ini pada 2002 berkisar 22%-24%. Dengan kata lain, sekitar 48-53 juta penduduk Indonesia mengalami kegemukan. Padahal, menurut Rachmad, tiga tahun sebelumnya, prevalensi obesitas ini baru sekitar 15%-20%.
Meningkatnya kasus-kasus obesitas ini memang bukan hanya ada di Indonesia. Badan kesehatan dunia, WHO, bahkan menyatakan masalah kelebihan bobot tubuh ini sudah menjadi epidemi dunia. Menurut laporan Newsweek edisi 11 Agustus silam, kasus obesitas di dunia meningkat 50% dalam sepuluh tahun terakhir ini. Pada lembaga obesitas internasional di London, Inggris, memperkirakan sebanyak 1,7 milyar orang di bumi ini mengalami kelebihan berat badan. Menurut laporan itu, Panama dan Kuwait tercatat sebagai dua negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni sekitar 37%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Di Brasil, lonjakan obesitas yang cukup mengejutkan justru pada anak-anak, dengan kenaikan kasus sebesar 239%. Data kenaikan obesitas di Amerika Serikat pun dikeluarkan oleh badan pusat statistik kesehatan nasional, NCHS. Menurut lembaga itu, hampir sepertiga penduduk negeri itu tergolong obese. Jumlahnya yang sekitar 31% pada 2000 itu meningkat dua kali lipat dibanding dua dekade sebelumnya yang hanya sekitar 15%.
Di Eropa, kasus serupa dialami Inggris. Menurut angka yang dilansir dalam konferensi obesitas internasional di Milan, Italia, pada 6 September silam, “negeri pizza” itu menjadi negara nomor wahid dalam kasus obesitas pada anak-anak, dengan angka prevalensi 36%. Di bawahnya, menurut Tim Obesitas Internasional, adalah Spanyol, dengan prevalensi 27%. Kasus serupa juga dihadapi Inggris, negara lainnya yang cukup terancam dengan kasus obesitas pada anak-anak. Malah, sebuah penelitian obesitas pada anak di negeri itu memperlihatkan persentase dan hasil tak jauh berbeda dengan penelitian dr. Damayanti. Hasil riset di Inggris ini menyebutkan, 26% dari semua anak obese usia 11-14 tahun yang diteliti sudah memperlihatkan beberapa faktor risiko terkena penyakit jantung koroner. Faktor-faktor itu, antara lain, gejala tekanan darah tinggi dan meningkatnya kadar lemak jahat (Salim, 2003).
Obesitas alias kegembrotan memang kerap didekatkan dengan penyakit jantung. Dari kasus-kasus penyakit jantung di dunia, sekitar 21% terkait dengan masalah bobot tubuh sangat berlebihan ini. Kaitan obesitas dengan penyakit jantung terletak pada adanya unsur enzim lipase dalam lemak. Di dalam pembuluh darah, lipid berbentuk trigliserida yang bisa berasal dari beragam makanan, termasuk yang mengandung karbohidrat. Jika kalori dalam tubuh tidak segera digunakan, trigliserida akan bertumpuk di sel-sel lemak, tak terkecuali di jantung.
2.3 Lemak dan Penyakit Jantung
Lemak adalah salah satu sumber tenaga. Satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal. Namun, konsumsi lemak yang berlebihan dapat merugikan kesehatan tubuh.
Adapun jenis-jenis lemak  sebagai berikut:
Lemak dalam makanan dapat berbentuk padat maupun cair (minyak). Kedua bentuk lemak ini dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu lemak jenuh dan lemak tidak jenuh. Lemak tidak jenuh dibagi menjadi dua jenis yaitu lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
a         Lemak jenuh : adalah lemak yang dalam struktur kimianya mengandung asam lemak jenuh. Apabila lemak jenis ini dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, maka dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Bahan makanan yang mengandung lemak jenuh adalah : Minyak kelapa, keju keras, lemak hewani. Lemak tak jenuh tunggal : lemak jenis ini mempunyai pengaruh sedikit terhadap peningkatan kadar kolesterol darah. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh tunggal adalah minyak zaitun, minyak biji kapas, minyak wijen, minyak kelapa sawit.
b        Lemak tak jenuh ganda : lemak jenis ini mempunyai pengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol darah. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh ganda adalah : minyak jagung, minyak repeseed, minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak biji bunga matahari, minyak ikan (Wisesa, 2008).
Ada tiga macam sumber utama lemak dalam makanan yaitu :
  • Lemak yang tak kelihatan : adalah lemak yang secara alamiah terdapat dalam bahan makanan. Bahan makanan yang mengandung tinggi lemak tak kelihatan sssadalah daging, telur, biji-bijian dan kacang-kacangan.
  • Lemak kasat mata : adalah lemak yang terlihat oleh mata biasa, seperti minyak goreng, gajih, margarin dan lain-lain.
  • Lemak yang ditambahkan : adalah lemak yang secara komersial ditambahkan ke dalam makanan, seperti pastry, ice-cream, pie, cake (kue) atau makanan yang digoreng (Wisessa, 2008)
Lemak mengangkut beberapa vitamin ke seluruh tubuh. Lemak dipakai untuk membuat hormon dan dinding sel, melindungi organ tubuh dan melumasi beberapa bagian tubuh yang bergerak. Namun terlalu banyak lemak dalam darah dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pankreatitis. Sebagian besar lemak di tubuh kita berbentuk sebagai trigliserida. Kolesterol adalah bentuk lemak yang lain. Agar dapat diangkut oleh darah, lemak dibungkus oleh molekul protein. Kumpulan lemak yang terbungkus protein ini disebut lipoprotein. Ukuran lipoprotein berbeda-beda. Yang lebih kecil disebut lipoprotein dengan daya larut rendah (low density lipoprotein/LDL) atau lipoprotein dengan daya larut sangat rendah (very low density lipoprotein/VLDL). Molekul ini mengangkut lemak dari hati ke bagian tubuh lain. Terlalu banyak LDL atau VLDL dapat menyebabkan lemak menumpuk di dinding pembuluh nadi. Penyempitan ini dapat menyebabkan pengiriman oksigen ke otot jantung berkurang, dengan akibat serangan jantung.Lipoprotein yang lebih besar disebut lipoprotein dengan daya larut tinggi (high density lipoprotein/HDL). HDL dianggap sebagai lipoprotein yang ‘baik’ karena mengeluarkan lemak dari pembuluh darah dan mengembalikannya ke hati untuk diproses lagi. Kadar HDL yang tinggi melindungi kita dari penyakit jantung.
Faktor Resiko Yang Menyebabkan Penyakit Jantung
Di bawah ini terdapat beberapa faktor resiko yang berperan terhadap terjadinya penyakit jantung koroner :
Faktor resiko terkena penyakit jantung yang berhubungan dengan lemak :
  • Hyperlipidemia or dyslipidemia merupakan peningkatan kadar lemak dan atau lipoprotein di dalam darah.
  • Hyperkolesterolimia adalah penigkatan kadar kolesterol melebihi batas normal (>=240 mg/dl). Hiperkolesterolemia merupakan faktor utama pembentukan ateroskerosis yang mengawali terjadinya penyakit kardiovaskuler. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hiperkolesterolemia, salah satu diantaranya adalah merokok.
  • Hypertrigeliseridemia yaitu peningkatan kadar trigliserida darah di atas batas normalnya. Menurut National Cholesterol Educational Program, Expert Panel on Adult Treatment Panel III (2002) bahwa kadar trigliserida darah normal yaitu kurang dari 150 mg/dl. American Heart Association Scientific Statement dalam jurnal Circulation (2004) menyebutkan bahwa hipertrigliseridemia bisa menjadi faktor risiko penyakit jantung koroner, walaupun tidak “sehebat” kolesterol LDL tinggi. Selain itu, hipertrigliseridemia bersama obesitas dapat menyebabkan perlemakan hati (fatty liver), insulin resisten pemicu terjadinya penyakit kencing manis. Hipertrigliseridemia bisa terjadi karena asupan trigliserida eksogen dan produksi trigliserida endogen serta pembebasan trigliserida dari jaringan lemak tubuh yang berlebihan. Selain itu, hipertrigliseridemia sering terjadi pada orang yang menderita obesitas. Trigliserida eksogen berasal dari makanan yang mengandung lemak tinggi. Makanan sumber trigliserida utama yaitu minyak goreng, makanan tipis-tipis dan camilan digoreng, lemak hewani, butter, margarine, keju. Makanan sumber trigliserida tinggi lainnya adalah kulit, sop buntut, sop kaki (kikil), jerohan seperti otak, lidah, hati, usus, babat. Trigliserida endogen diproduksi hati dari makanan sumber karbohidrat sederhana dan karbohidrat olahan. Makanan sumber karbohidrat sederhana banyak pada gula pasir, teh manis, sirup, minuman ringan manis, juice, permen, coklat, ice-cream, cake. Sedangkan makanan sumber karbohidrat olahan adalah makanan asal tepung terigu dan tepung beras seperti martabak, donat, kue-kue, cookies, crackers, cake, roti putih tidak berserat, mie, bihun. Agar trigliserida menjadi normal yaitu kurang dari 150 mg/dl, Anda harus mengurangi asupan trigliserida eksogen, mencegah produksi trigliserida endogen dan menambah penggunaan trigliserida. Selain itu, Anda juga bisa mencegah terjadinya hipertrigliseridemia dengan cara mempertahankan berat badan ideal. Asupan trigliserida eksogen dikurangi dengan cara Anda menghindari konsumsi makanan sumber lemak tinggi seperti makanan tipis dan camilan digoreng, lemak hewani, butter, margarine, keju, kulit, sop buntut, sop kaki (kikil), jerohan seperti otak, lidah, hati, usus, babat. Produksi trigliserida endogen dicegah dengan cara Anda menghindari konsumsi makanan sumber karbohidrat sederhana dan karbohidrat olahan tinggi seperti gula pasir, teh manis, sirup, minuman ringan manis, juice, permen, coklat ice-cream, cake, makanan asal tepung terigu dan tepung beras seperti martabak, donat, kue-kue, cookies, crackers, cake, roti putih tidak berserat, mie, bihun. Penggunaan trigliserida untuk mencegah hipertrigliseridemia bisa dilakukan dengan cara menambah penggunaan energi di dalam tubuh. Anda bisa melakukan olahraga kesegaran jasmani untuk menambah penggunaan energi. Olahraga aerobik sesuai kaidah-kaidah kedokteran olahraga seperti jalan kaki, jogging, senam, renang merupakan olahraga kesegaran jasmani yang menggunakan trigliserida sebagai sumber energi. Makanan yang baik untuk dikonsumsi adalah makanan alamiah, gizi seimbang, beragam dan bervariasi sesaui kebutuhan. Anda bisa mengonsumsi makanan berupa gabungan dan kombinasi nasi atau roti gandum berserat, lauk pauk asal hewani rendah lemak dan kolesterol seperti ikan, lauk pauk asal nabati seperti tahu, tempe, dan sayuran. Makanan selingan yang baik adalah buah-buahan segar, seperti buah apel, jeruk, melon, pepaya, nenas. Selain itu, Anda bisa mengonsumsi susu rendah lemak dengan takaran encer (Primana,2008).
Mengukur Trigliserida
Tingkat trigliserida dalam darah meningkat cepat setelah kita makan. Kita harus puasa makan sedikitnya delapan jam sebelum contoh darah kita diambil untuk tes tersebut. Banyak orang dengan HIV mempunyai tingkat trigliserida yang sangat tinggi, terutama yang memakai PI. Tingkat trigliserida di bawah 1,7 dianggap normal. Tingkat di atas 11 dapat menyebabkan pankreatitis.
Mengukur Kolesterol
Kolesterol total mencakup LDL yang ‘buruk dan HDL yang ‘baik’. Kolesterol total tidak begitu cepat berubah setelah kita makan, jadi darah untuk tes ini dapat diambil kapan saja. Tingkat kolesterol total di bawah 5,2 dianggap baik, dan di atas 6,2 dianggap buruk. HDL adalah kolesterol baik. Kolesterol ini dapat diukur pada contoh darah yang diambil tanpa puasa. Semakin tinggi tingkat HDL semakin baik. Tingkatnya di atas 1,0 dianggap baik. LDL adalah kolesterol buruk. Tingkat LDL dihitung memakai rumusan yang mencakup tingkat trigliserida. Contoh darah yang diambil setelah puasa dipakai untuk mengukur tingkat trigliserida atau untuk menghitung kolesterol LDL. Tingkat LDL di bawah 2,6 dianggap baik, sedangkan bila di atas 4,1 menunjukkan risiko tinggi terhadap penyakit jantung. Analisis terhadap hasil uji coba klinis yang baru dilakukan menemukan bahwa, untuk pasien berisiko tinggi penyakit jantung, LDL sebaiknya diturunkan di bawah 1,8.
2.4 Serat dan Penyakit Jantung
Serat dalam bahan pangan yang tidak dicerna mempunyai sifat yang positif bagi gizi dan metabolisme. Serat merupakan komponen dari jaringan tanaman yang tahan terhadap proses hidrolisis oleh enzim lambung dan usus kecil. Serat tersebut berasal dari dinding sel dan berbagai sayuran dan buah – buahan. Secara kimia dinding sel tersebut terdapat dalam jenis karbohidrat seperti: sellulosa, hemi sellulosa, pectin, dan non karbohidrat seperti: polimer lignin. Senyawa pectin berfungsi sebagai bahan perekat antara dinding sel yang satu dengan yang lainnya.
Fungsi serat ternyata melibatkan asam empedu, jika mengkonsumsi serat yang tinggi maka pengeluaran asam empedu akan mengeluarkan lebih banyak kolesterol dan lemak yang dikeluarkan bersama feses. Dalam hal ini fungsi serat adalah mencegah adanya penyerapan kembali asam empedu kolesterol dan lemak, sehingga serat dikatakan mempunyai efek hipolidemik yang sangat bermanfaat bagi penderita hiperkolesterolemia yang dapat berkembang menjadi gangguan fungsi jantung. Serat makanan merupakan bagian makanan yang tidak dapat dicerna oleh cairan pencernaan (enzim), sehingga tidak menghasilkan energi atau kalori. Serat makanan ini termasuk golongan karbohidrat yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, pektin dan gum. Selulosa dan hemiselulosa tedapat pada bekatul atau sekam padi, kacang-kacangan, dan hampir pada semua buah dan sayuran. Serat dapat mengurangi kolesterol dalam darah, dan mengurangi penyakit aterosklerosis. Serat yang dapat diurai di dalam usus halus berubah menjadi cairan yang lengket atau selaput lendir, kekentalan dan kesempurnaan lapisan lendir merupakan selapis penghalang yang bersifat membatasi kecepatan daya serap usus kecil. Para pakar menganggap bahwa jumlah serat mempunyai kaitan tertentu dengan kekentalan kolesterol plasma. Karena serat dapat bersatu dengan asam empedu dan dikeluarkan bersama tinja berupa bilirubin. Bagi yang pemasukan seratnya kurang, maka enzim empedu yang dikeluarkan pada tinja juga sedikit, sehingga kolesterol meningkat, dan menambah risiko terjangkitnya pengerasan pembuluh darah dan penyakit jantung.
Pada orang yang banyak mengkonsumsi karbohidrat dengan glychemic index yang tinggi (GI) akan dapat mengganggu kesehatan tubuhnya dalam hal ini adalah penyakit jantung yang dapat mengakibatkan kematian pada penderita. Penjelasan ilmiahnya adalah, bahwa ketika karbohidrat dipecah dan glukosa dilepaskan kedalam darah, kehadiran glukosa ini memberi tanda pada pancreas untuk mengeluarkan insulin, yaitu suatu hormon yang mengankut glukosa kedalam sel – sel tubuh. Jika karbohidrat mempunyai GI yang tinggi maka gluosa akan menyebar ke dalam sistem tunuh dan insulin juga akan dikeluarkan dengan cepat yang ini akan berdampak dengan membanjirnya hormon insulin, jika terjadi berulang kali dapat menaikkan kadar glukosa dalam darah. Dalam sebuah penelitian “British Medical Journal” menunjukkan bahwa pada orang – orang yang pada glukosanya lebih tinggi dari normal mempunyai resiko 2,5 X lebih besar menibggal karena penyakit jantung. Beberapa penelitian pada manusia telah menemukan hubungan berbalikan antara asupan serat dan risiko penyakit jantung koroner. Beberapa peneliti menduga bahwa serat mencegah penyakit jantung melalui perannya dalam mencegah kegemukan, penggumpalan darah, dan aterosklerosis. peneliti lain masih meragukan bahwa serat per se bukan faktor pelindung yang sebenarnya. mereka beranggapan bahwa mengonsumsi makanan berserat tinggi merupakan ciri dari gaya hidup dan pola makan sehat yang berperan pada menurunnya resiko penyakit jantung.
Rata-rata negara di dunia ini menetapkan sebanyak 30 gr  kebutuhan akan serat setiap harinya. Makanan berserat tinggi sangat penting bagi tubuh, karena tidak tercerna oleh enzim yang disekresikan oleh tubuh. Burkitt dkk.(1974) adalah yang pertama kali menunjukkan hubungan antara konsumsi serat denga insiden kanker kolon, kemudian berkembang ke kardiovaskuler dan penyakit lainnya. Juka dikemukakan bahwa vegetarian yang mengkonsumsi lebih banyak serat makanan tidak banyak penyakitnya (mereka juga secara umum mengkonsumsi sedikit protein hewan, lebih banyak vitamin dan sedikit kolesterol). Yang termasuk dalam kategori serat adalah selulose dan hemi selulose dari dinding sel tanaman, pectin (bagian dari buah – buahan yang digiling) yang semuanya termasuk dalam karbohidrat. Serat yang berasal dari golongan karbohidrat sangat penting untuk menggantikan kolesterol yang hilang akibat penurunan lemak jenuh. Makanan yang mengandung serat adalah serealia, gandum jagung, dedak, kacang – kacangan, sayur serta buah -buahan.
Kandungan Serat pe 100 gram Makanan
Jenis Makanan Kandungan Serat dalam Gram
Kacang Kedelai Kacang Tanah
Kacang Hijau
Jagung
Kedelai Bubuk
Kecap Kental
Tahu
Susu Kedelai
Taoge
Tempe
4,9
2
4,1
2,9
2,5
0,6
0,1
0,1
0,7
0
Sumber : IPB
Kandungan Serat Per 100 Gram Buah
Jenis Buah Kandungan Serat dlm Gram
Alpukat Anggur
Apel
Belimbing
Jambu biji
Jeruk bali
Jeruk sitrun
Mangga
Melon
Nanas
Pepaya
Pisang
Semangka
Sirsak
Srikaya
1,4
1,7
0,7
0,9
5,6
0,4
2
0,4
0,3
0,4
0,7
0,6
0,5
2
0,7
Sumber : IPB
Kandungan Serat pada 100 gram Sayuran
Jenis Sayuran Kandungan Serat dalam gram
Bayam Kangkung
Daun Pepaya
Daun Singkong
Kol
Sawi Hijau
Seledri
Selada
Tomat
Paprika
Cabai
Buncis
Kacang Panjang
Bawang Putih
Bawang Merah
Kentang
Lobak
Wortel
Brokoli
Kembang Kol
Asparagus
Jamur
0,8 1
2,1
1,2
1,2
1,2
0,7
0,6
1,2
1,4
0,3
1,2
2,5
1,1
0,6
0,3
0,7
0,9
0,5
0,9
0,6
1,2
Sumber : IPB
Ada korelasi langsung antara kadar serat diet (selulose dan hemiselulose) dengan gerak laju zat – zat makanan ingesta melalui saluran pencernaan. Diperkirakan serat dapat melembekkan feses, sehingga mengurangi tekanan pada dinding kolon dan mempercepat pengeluaran feses.  Pengkonsumsian serat yang terlarut dalam jumlah tinggi sekitar 15-30 gr/hari, telah menunjukkan kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dengan cara mengikatnya dengan garam – garam dan asam – asam empedu yang terbentuk dari kolesterol. Pengikat ini mencegah terjadinya aterosklerosis. Serat terlarut dapat ditemukan pada gandum, elai, kacang-kacangan dan beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran. Serat seharusnya ditambahkan secara bertahap untuk mencegah adanya gejala ketidakberesan dalam gastrointestinal yang dapat terjadi seiring dengan fungsinya.

http://zaifbio.wordpress.com/category/dasar-dasar-ilmu-gizi/

0 Response to "DIET TERAPHY PADA PENYAKIT JANTUNG"